Jakarta, Kanker masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Di Indonesia jenis kanker yang paling banyak menyerang wanita adalah adalah kanker payudara dan leher rahim (serviks). Artinya, perempuan Indonesia lebih berisiko terkena kanker kedua itu.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2007, prevalensi tumor (jinak dan ganas) adalah 4,3 per 1.000 penduduk di Indonesia. Kanker merupakan penyebab kematian nomor 7 (5,7 persen) setelah stroke, tuberkulosis, hipertensi, cedera, perinatal dan diabetes.

"Sedangkan menurut Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS), jenis kanker tertinggi di rumah sakit seluruh Indonesia pasien rawat inap tahun 2008 adalah kanker payudara (18,4 persen), disusul dengan kanker leher rahim atau serviks (10,3 persen). Jadi perlu dilihat juga kalau perempuan Indonesia lebih berisiko," jelas Menteri Kesehatan dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH, dalam sambutannya membuka acara Studi ACTION (ASEAN Cost In Oncology) di Indonesia, di Hotel JW Marriot Kuningan, Jakarta, Jumat (16/12/2011).

Bila dibandingkan dengan negara lain, di Jepang kasus kanker paling banyak adalah kanker lambung, di India kanker oral (kanker leher dan kepala), sedangkan di negara-negara ASEAN hampir sama yaitu kanker payudara dan serviks.

Kenapa perempuan Indonesia lebih banyak yang kena kanker payudara dan serviks dibanding kanker lain?

Tidak diketahui pasti mengapa perempuan Indonesia lebih banyak yang menderita kanker, terutama kanker payudara dan serviks. Tapi Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia, dr Drajat Suardi, Sp.B(K)Onk, menyampaikan bahwa hal ini sangat berkaitan dengan faktor risiko.

"Faktor risikonya antara lain menstruasi yang lebih cepat, menopause yang lebih lambat dan jumlah anak yang sedikit. Kalau di kota-kota besar perempuan inginnya menopause lebih lambat karena tetap ingin tampil cantik, terus anaknya sedikit, sehingga paparan hormon estrogen menjadi lebih panjang. Estrogen yang lebih panjang akhirnya menyebabkan peluang kanker payudara menjadi lebih besar," jelas dr Drajat Suardi, Sp.B(K)Onk, Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia.

Namun faktor-faktor risiko tersebut tidak begitu saja serta merta menjadi kanker, Dr Drajat mengatakan ada faktor internal dan faktor eksternal yang bisa memicu sel kanker.

"Faktor internal karena adanya kelainan genetik, ada jenis gen yaitu onkogen (oncogene) yang mempercepat keganasan sel tumor, dan suppressor gene yang memperlambat. Ketika terjadi infeksi virus akhirnya bisa menyebabkan onkogen menjadi lebih cepat atau suppressor gene gagal berfungsi," lanjur Dr Drajat.

Selain faktor internal, ada juga eksternal, yaitu:
1. Faktor biologi, seperti bakteri dan virus yang dapat mengubah sel termutasi menjadi termutasi lebih lanjut.
2. Faktor kimia, seperti pewarna makanan dan hormonal.
3. Faktor fisika, seperti yang berawal dari faktor internal kemudian ditambah dengan luka bakar yang menimbulkan keloid dan sering tergesek, yang akhirnya menyebabkan kanker kulit.

"Ada juga faktor lingkungan, kalau di Jepang kenapa orang lebih banyak kena kanker lambung mungkin karena makanannya, mereka kan suka makan dengan banyak cuka. Sedangkan di India mereka suka mengunyah pinang yang mengandut zat tertentu yang bisa memicu kanker," tutup Dr Drajat.
Sumber: DetikHealth


EmoticonEmoticon